Pages

Tuesday, July 14, 2009

JIHAD FII SABILILLAH جهاد في سبيل الله

Jihad fi SabiliLlah termasuk tuntutan al-wala' dan al-bara' yang paling penting karena ia adalah pemisah antara yang Hak dan Batil, antara HizburRahman dan HizbusSyaitan.

Kita sudah maklum bahwa permusuhan antara dua golongan, iaitu Hizbur Rahman dan Hizbus Syaitan, merupakan masalah yang sudah mengakar, dan akan berlanjutan hingga Allah mewariskan bumi dan seisinya. Demikian keadaannya itu karena jalan yang ditempuh masing-masing saling berbeda. Dan mustahil keduanya itu akan menjumpai titik pertemuaN.

Karena HizbuLlah hendak menegakkan Kalimatul-Haq dan kekuasaan syariat Islam di atas setiap jengkal bumi, sedangkan HizbusSyaitan membenci jalan ini, kemudian ia berusaha sekuat tenaga dengan segala cara untuk menyingkir dan menghancurkannya.

Dan jika kita semak Sirah Nabi Muhammad saw tentu kita akan mendapati bahawa jihad adalah langkah lanjutan dari hijrah Nabawiyyah. Hijrah merupakan titik awal membentuk sikap Al-Wala dan Al-Bara yang nampak dengan nyata sedangkan Jihad merupakan bentuk sikap lanjutannya yang jauh lebih nyata karena jihad merupakan satu-satunya jalan yang benar-benar memisahkan antara HizburRahman dan HizbusSyaitan.

Dan juga di dalam Sirah Nabi Muhammad saw kita dapati bahwa Rasulullah saw telah mempersiapkan Jihad dalam erti perang sejak menjelang berdirinya Daulah Islamiyyah (Pemerintah Islam) dan selanjutnya melaksanakan Jihad untuk mempertahankan dan memperkokoh Daulah Islamiyyah.

Maka dengan adanya Jihad, kedudukan manusia menjadi benar-benar jelas. Apakah dia berada dalam HizburRahman (Pembela-PenegakSyariat Allah) atau dalam barisan HizbusSyaitan (Penghalang tegaknya Syariat Allah).

I. PENGERTIAN JIHAD

A. Menurut Bahasa

Al-Jihaad adalah Masdar dari fi'il Ruba'iy: Jaahada berdasarkan wazan fi'il yang bermakna Al-Mufaa'alatu min Thorfayin (Saling berbuat dari kedua belah pihak) seperti perkataan Al-Jidal yang bermakna Al-Mujaadalah masdar dari perkataan Jaadal . Dari fi'il Thulathi bagi perkataan Jihad adalah Jahida masdarnya Al-Jahdu artinya At-Thooqot (kekuatan), dan masdarnya Al-Juhdu artinya Al-Masyaqqot (jerih payah).

Dan di dalam Lisanul Arab : dikatakan Al-Jahdu (Al-Jahd) artinya Al-Masyaqqot (jerih payah), dan Al-Juhdu (Al-Juhd) artinya At-Thooqot (kekuatan). Dan dalam Lisanul Arab juga terdapat perkataan Al-Jihaad maknanya : Istifrooghu maa fiil wus'I wattooqoti min qaulin aw fi'li (Mencurahkan segenap tenaga dan kekuatan baik berupa Ucapan maupun Perbuatan).

Penulis Munjid mengatakan: Jaahada Mujaahadatan wa Jihaadan artinya Badzala wus'ah (Mengerahkan tenaganya) dan asalnya: Badzala kullum minhumaa juhdahu fii daf'i shohibih (Masing-masing diantara keduanya mengerahkan kekuatannya dalam menolak partnernya).

Dan didalam tafsir An-Naisabury : Dan yang shahih sesungguhnya Al-Jihaad adalah Badzlul Majhuudi fii Husuulil Maqshoudi (mengerahkan segala jerih payah untuk mencapai tujuan).

Dari beberapa makna bahasa diatas dapat diperoleh Ta'rif Lughowi yang merupakan hakikat lughowiyyah bagi perkataan Al-Jihaad yaitu: Al-Jihaadu Huwa Istifrooghul Wus'i fiil Mudaafa'ati Bayna Thorofaina Walau Taqdiiroon "Jihad adalah pengerahan kekuatan yang didalamnya saling tolak menolak antara dua kutub walaupun pada takdirnya (bukan pada zahirnya)."

Yang dimaksud dengan takdirnya ialah Jihadul Ihsan terhadap dirinya, yaitu: bahwa di dalam diri manusia itu ada dua kutub, ketika kedua keinginan yang saling berlawanan bertemu didalam dirinya, maka masing masing berjihad untuk mengalahkan yang lain.

B. Ta'rif Al-Jihad menurut istilah syara' :

"Bahwasannya Jihad itu jika dinyatakan secara mutlak tanpa qayyid maksudnya adalah Qital (Perang) dan mengerahkan kemampuan daripadanya untuk meninggikan kalimatullah. Dan ta'rif Jihad yang lebih mendasar dan lebih mencakup adalah yang dinyatakan dalam Mazhab Hanafi yaitu: Mencurahkan kemampuan dan kekuatan dengan berperang di jalan Allah swt, dengan jiwa, harta dan lisan dan selain itu."

(Al-Kisani, Badai'u Ash-Shanai'i 9/4299)"

Ibnu Rusyd mengatakan:"Setiap orang yang meletihkan dirinya di dalam mentaatai Allah, maka sungguh ia telah berjihad di jalanNya, kecuali bahwasannya perkataan 'Jihad fie Sabilillah' bila dinyatakan secara mutlak, maka dengan kemutlakannya itu tidak dapat diartikan selain dari: Memerangi orang orang kafir denga pedang, hingga mereka masuk kedalam agama Islam atau membayar Jizyah dari tangan mereka, sedang mereka dalam keadaan hina."

(Muqaddimah Ibnu Rusyd 1/369)

Dan perkataan 'fie Sabilillah' jika dinyatakan secara mutlak atas sesuatu perbuatan, yang dimaksud adalah jihad yang maknanya Perang. Oleh karena itu kita lihat banyak para ulama penyusun berbagai kitab mencantumkan hadist hadist yang mengandung perkataan 'fie Sabilillah' didalam bab-bab Jihad.Misalnya Hadist:

"Sesiapa yang berpuasa sehari fie sabilillah niscaya Allah menjauhkan mukanya dari api neraka 70 tahun perjalanan."

(Fathul Bari no. 2840, Kitabul Jihad, Bab Fadlus Soum fie Sabilillah 6/47)

Untuk lebih menyakinkan kita rujuk kitab kitab: Shahih Bukhari, Sunan Nasai, Sunan Tirmidzi, At-Targhib wat Tarhib, dll.

Ibnu Hajar berkata:"Dan yang tidak memerlukan pemikiran yang panjang untuk memahami lafaz 'fie sabilillah adalah Jihad."

Makna Perkataan Al-Jihad di dalam Al-Quran:

a. Perkataan Al-Jihad pada ayat-ayat Makiyyah menunjukan makna Jihad menurut bahasa yang 'am, yaitu antara lain:

"Sesiapa yang berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri."

(QS Al-Ankabut 6)

"Jika kedua orang tuanya berjihad terhadapmu agar kamu mempersekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada pengetahuan padamu maka janganlah kamu mentaati keduanya."

(QS Al-Ankabut 8)

"Dan orang-orang yang berjihad dijalan Kami, sungguh Kami benar-benar akan menunjukkan mereka pada jalan jalan Kami."

(QS Al-Ankabut 69)

"Dan jika keduanya berjihad terhadapmu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menta'ati keduanya...."

(QS Luqman 15)

b.Perkataan Al-Jihad pada ayat-ayat Madaniyyah berjumlah 26 perkataan dan kebanyakan menunjukan dengan jelas akan makna Qital (Perang), diantaranya:

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. "

Surat At-taubah ayat 41 (QS 9:41)

"Dan apabila diturunkan surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihad beserta Rasul-Nya, Niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berjihad) dan mereka berkata: " Biarlah kamu berada bersama orang- orang yang duduk."

Surat At-Taubah ayat 86

Dan Banyak lagi ayat-ayatnya:

QS Al-Baqarah 218 , QS Al-Imran 142, QS An-Nisa 95, QS Al-Anfal 72, 74, 75, QS At-Taubah 16, 19, 20, 24, 44, 73, 81, 88, QS Al-Hujarat 15, QS Al-Maidah 35, 54 , QS Al-Ankabut 6 , QS As-Saf 11, QS At-Tahrim 9, QS Al-Mumtahanah 1 , QS Muhammad 31

Adapun Hadith-hadith yang menunjukan makna Jihad menurut syara' antara lain:

Dari Amru bin Abasyah berkata: Seorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Beliau menjawab:"hatimu menyerah dan orang-orang muslim selamat dari gangguan tangan dan lisanmu. Ia berkata:"Islam macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Al-Iman". Ia bertanya:"Apakah Iman itu?" Beliau menjawab: " Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan kebangkitan setelah mati." Ia bertanya lagi: "Iman macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Hijrah". Ia bertanya: "Apakah Hijrah itu?" Beliau menjawab: "Engkau tinggalkan kejahatan." Ia bertanya lagi: "Hijrah macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Al-Jihad." Ia bertanya lagi: "Apakah Jihad itu? Beliau menjawab: " Engkau perangi orang-orang kafir jika engkau jumpai dimedan perang." Ia bertanya lagi: "Jihad macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Siapa yang dilukai anggotanya dan dialirkan darahnya."

(HR Ahmad)

Demikian pula sahabat Nabi saw jika mendengar perkataan Jihad terlintas dalam benak mereka maknanya adalah perang sebagaimana dapat kita ketahuihal ini antara lain dalam hadist dibawah ini:

Dari Abu Qutadah ra, dari Rasulullah saw, bahwasannya baginda telah berdiri dikalangan mereka kemudian menyebutkan, "Sesungguhnya Jihad fie Sabilillah dan Iman kepada Allah itu adalah amal-amal yang paling utama." Maka berdirilah seseorang kemudian ia berkata: "Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan sekiranya saya terbunuh fie sabilillah, apakah semua dosa dosa saya terhapus?" kemudian Rasulullah menjawab: "Ya, jika engkau terbunuh fie sabilillah sedangkan engkau sabar, semata-mata mencari pahala, maju terus, tidak mundur." Kemudian Rasulullah saw berkata: "Bagaimana tadi apa yang engkau katakan?" Ia bertanya: "Bagaimana pendapat tuan sekiranya saya terbunuh fie sabilillah, apakah semua kesalahan saya juga akan terhapus? Maka Rasulullah menjawab: "Ya, sedangkan kamu bersabar, semata- mata mencari pahala, maju terus tidak mundur, kecuali hutang (tidak akan terhapus), karena sesungguhnya Jibril as mengatakan demikian kepadaku."

(HR Muslim no.1885).

Jihad adalah salah satu jenis ibadah tertentu yang telah disyariatkan Allah kepada umat Islam sebagaimana ibadah Sholat, Zakat, Puasa dan Ibadah-Ibadah lainya. Oleh itu ta'rif jihad menurut bahasa semata-mata tidak tepat jika kita gunakan sebagai ta'rif jihad menurut syara', seperti Ibadah-ibadah lainnya, misalnya sholat.

Menurut bahasa, Sholat artinya Do'a, tetapi jika yang dimaksudkan dengan perkataan sholat itu adalah salah satu dari jenis Ibadah maka tidaklah dapat dikatakan bahwa setiap do'a itu adalah sholat.

Demikian pula halnya Siyam (Puasa) menurut bahasa artinya menahan atau mengekang dari makan dan minum. Apakah setiap perbuatan menahan dari makan dan minum pada waktu tertentu dapat dikatakan Siyam (Puasa) secara Syar'i? Tentu tidak. Maka demikian pula halnya Jihad yang artinya menurut bahasa adalah mengerahkan segenap kekuatan dalam perkara apa saja dapat dikatakan Jihad. Karena Jihad sudah merupakan satu jenis Ibadah yang tertentu dalam syariat Islam yaitu pengerahan segenap kekuatan dan kemampuan dalam berperang fie sabilillah dengan jiwa, harta, lisan dan sebagainya.

II. MASYRU'IYYAT AL-JIHAD

"Hai Nabi, berjihadlah (perangilah) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali seburuk-buruknya."

(QS At-Taubah 72)

Dalam menafisirkan ayat ini Ibnu Mas'ud berkata: "Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang Munafik dengan tangan, dan jika tidak mampu maka harus mengingkari pada wajah. Dan Ibnu Abbas mengatakan: "Allah swt memerintahkna Nabi saw untuk memerangi orang-orang kafir dengan Pedang dan memerangi orang-orang Munafik dengan lisan dan tidak bersikap lembut terhadap mereka."

(Tafsir Ibnu Katsir 2/408).

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

(QS Al-Baqarah 216).

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agam Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka kalam keadaan tunduk".

(QS At-Taubah 29)

Tuntutan dan Penghayatannya (KALIMAH TAUHID) لا إله إلا الله محمد رسول الله

بسم الله الرحمن الرحيم

MUQADDIMAH .

Islam bertunjangkan aqidah yang sejahtera . Aqidah yang selamat dari sebarang virus yang menggugat dan menghakis nilai keyakinan kepada Allah Azza Wajalla . Khasnya virus syirik yang bahayanya mampu menghalang kelayakkan seseorang untuk menduduki syurga Allah swt.

Tentunya لا إله إلا الله adalah anti biotic yang efektif untuk membasmi penguasaan virus syirik yang amat merbahaya . Namun begitu , لا إله إلا الله mesti direalisasikan seluruh prinsip dan tuntutannya dalam kehidupan setiap individu . Selamatnya individu tersebut bergantung kepada sejauh mana ia berupaya memiliki prinsip dan melaksanakan tuntutan لا إله إلا الله .

PENGERTIAN لا إله إلا الله .

لا إله إلا الله : TIADA yang diikuti , dituruti , dipatuhi dan disembah selain daripada Allah swt.

Firman Allah swt :

"Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.

( Taha 14 )

Firman Allah swt :

Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan.

( Al Fatihah 5 )

لا إله إلا الله : PETUNJUK dan DOA hanya kepada Allah swt .

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka [1], bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.

( Al Fatihah 6 – 7 )

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi (supaya ia menerima Islam), tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya); dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang (ada persediaan untuk) mendapat hidayah petunjuk (kepada memeluk Islam).

( Al Qasas 56 )

لا إله إلا الله : Menyeru supaya TAAT dan TAKUT hanya kepada Allah swt. serta dalam masa yang sama mestilah mendurhakai hawa nafsu yang menyeleweng. Pengertian ini melahirkan sifat dan watak TAQWA kepada Allah swt. apabila ianya dicerna dalam dua keadaan serentak :

1. Tunduk kepada Allah swt.
2. Lawan hawa Nafsu yang menyeleweng .

Firman Allah swt :

Adapun orang yang takutkan keadaan semasa ia berdiri di mahkamah Tuhannya, (untuk dihitung amalnya), serta ia menahan dirinya dari menurut hawa nafsu, Maka sesungguhnya Syurgalah tempat kediamannya

( An Naaziaat 40 – 41 ).

Mereka yang berhak menduduki syurga Allah swt. Ialah mereka yang:

1. Takut pada kebesaran Tuhannya
2. Cegah diri dari pengaruh hawa nafsu

Pengertian Taqwa :

1. Takut dalam erti kata TAAT ( melaksanakan semua bentuk perintah Allah samaada ringan atau berat dan meninggalkan semua larangan Allah swt. )

Cinta yang mendalam kepada Allah swt. dan tidak sampai bermain kayu tiga dengan Allah swt.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“ Hati tidak berasa gembira dan mencapai kelazatan yang sempurna melainkan hati itu sentiasa berada dalam keadaan cinta kepada Allah swt. dan senantiasa menghampirinya dengan apa yang dikasihinya . Tidak mungkin hati itu rasa cinta dan kasih kepadaNya melainkan dengan meninggalkan semua perkara yang dikasihi selainNya. Inilah hakikat لا إله إلا الله “

لا إله إلا الله : Juga memberi erti Mengikut dan mematuhi apa sahaja perintah yang datang daripada Allah swt.

(Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad): "Turutlah apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu menurut pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah; (tetapi sayang) amatlah sedikit kamu mengambil peringatan".

( Al A’raaf 3 )

Sebagai seorang mukmin kita tidak selayaknya banyak soal dan dalih dalam menerima arahan Allah swt.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَ مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَ اخْتِلاَفِهِمْ عَلى أَنْبِيَائِهِمْ .

Maksudnya : “ Dari Abi Hurairah Rha. Berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda : Apa yang telah aku larang kamu daripada melakukannya , maka hendaklah kamu menjauhinya dan apa yang aku perintahkan kamu maka laksanakanlah semampu mungkin , maka sesungguhnya telah rugilah orang – orang sebelum daripada kamu kerana banyaknya persoalan mereka dan wujudnya percanggahan pendapat terhadap nabi - nabi mereka .

( Riwayat Bukhari dan Muslim )

Sebagai seorang mukmin , jua tidak seharusnya kita menggunakan logikal manusia semata – mata dalam membuat penilaian ( untuk menerima atau menolak ) sesuatu hukum atau perundangan .

Berkata Imam Syafie Rhm. :

“ Kiranya Islam itu dinilai secara logik , nescaya segalanya rosak dan binasa . Contohnya : kenapa tatkala kita buang air besar , kita hanya diwajibkan basuh sedangkan ianya jelas najis . apabila keluar air mani , kita diwajibkan mandi sedang ianya tidak najis.”

Ini menunjukkan kepada kita , bahawa Islam diamalkan bukan kerana logik atau tidak sesuatu amalan tersebut, tetapi berdasarkan ketaatan menjunjung tinggi titah perintah Allah saw.

Firman Allah swt :

(Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad): "Turutlah apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu menurut pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah; (tetapi sayang) amatlah sedikit kamu mengambil peringatan".

( al a'raaf : 3 )

Negara kita tidak ketinggalan menerima ancaman dari golongan Aqlaniyyah yang cuba menafsirkan semula Al Quran menggunakan aqal dan logik .

Sabda Rasulullah : [2]

عن سعيد بن جُبَيْرٍ عن ابْنِ عباسٍ رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ قَالَ فِي اْلقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ .

رواه الترمذي وقال أبو عيس هذا حديث حسن صحيح

“ Barangsiapa yang bercakap mengenai ( menafsirkan ) AlQuran tanpa ilmu ( berdasarkan pandangan aqalnya semata – mata ) , maka silalah sediakan tempat tinggalnya di dalam Api neraka.”

( Riwayat at Tarmizi )

Menafsirkan Al – Quran mestilah berasaskan qaedah yang ditetapkan, bukan secara ' semborono ' atau ' hentam kromo ' juga bukan mengikut ' faham sendiri ' yang jauh dari ketetapan qaedah muktabar.

Ijma’ ulama’ menggariskan qaedah tafsir dalam 5 usul dan qawai’d [3] :

1. Tafsir Quran dengan Quran
2. Tafsir Quran dengan Sunnah
3. Tafsir Quran dengan kata–kata Sahabat Rhm.
4. Tafsir Quran dengan Lughah Arabiah
5. Tafsir Quran dengan apa yang difahami daripada ayat .
( seperti berasaskan Asbabun Nuzul dan Dhohir ayat . )

Imam As – Sayuthi berkata :

“ Tidak adalah yang lebih jahat dan bodoh daripada daripada ulama’ yang menggunakan ayat – ayat quran untuk membenarkan pemikirannya ( yang berdasarkan hawa nafsu ) ”

Sebagai seorang mukmin kita tidak harus degil dan takabbur terhadap ketetapan Allah swt.

لا إله إلا الله memaksa kita tunduk dan patuh kepada kebenaran Ilahi . Keengganan kita hanyalah membawa kita ke Neraka Allah dan kekal di dalamnya .

Firman Allah swt :

" Dan orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat keterangan kami, mereka itu ialah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.”

( Al Baqarah 39 )

Sifat enggan dan takabbur inilah menjadi 2 sifat aktif yang mendorong seseorang menjadi kufur kepada Allah swt. sebagaimana ianya pernah menimpa Iblis A’laihi Laknatullah .

Firman Allah swt :

“ Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam". Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir.”

( Al Baqarah 34 )

Namun , amat malang sekali apabila budaya degil dan sombong ini berkembang pesat dikalangan segelintir ummat Islam semata – mata kerana sikap tidak mahu mengalah . Sedang kita telah diajar oleh Allah swt :

“(Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau dan pengikut-pengikutmu, wahai Muhammad) ke arah ugama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) ugama Allah, iaitu ugama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah ugama yang betul lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

( Ar Ruum 30 )

لا إله إلا الله : Bererti menolak dan menjauhkan diri secara menyeluruh akan semua bentuk undang – undang dan cara hidup Jahiliyyah .

“Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? Padahal - kepada orang-orang yang penuh keyakinan - tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih pada daripada Allah. . Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai teman rapat, kerana setengah mereka menjadi teman rapat kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman rapatnya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang berlaku zalim.”

( Al Maaidah 50 – 51 )

Thursday, July 2, 2009

Perkara Yang Mengeratkan Persahabatan

Hadith :
Sabda Rasulullah s.a.w yang maksudnya:
“Tiga perkara yang boleh mengeratkan persahabatan dengan saudaramu iaitu memberi salam apabila bertemu dengannya dan menyediakan tempat duduknya dalam sesuatu majlis serta panggilah ia dengan nama yang paling disenanginya.”

Riwayat Al-Tabrani

Huraian

i) Kita hendaklah sentiasa mempamerkan keperibadian seorang muslim dalam setiap pergaulan kerana ia merupakan aset penting bagi kejayaan diri serta organisasi yang dipimpin.
ii) Tutur kata yang baik, beradab dan dipenuhi unsur-unsur keikhlasan akan memberikan motivasi yang paling berkesan kepada setiap individu dalam masyarakat sekeliling sehingga membentuk kualiti ummah yang terbaik dan menjadi contoh kepada yang lain.
iii) Jika kita mahu dihormati maka kita hendaklah terlebih dahulu menghormati orang lain sama ada dengan mengucapkan salam, bersikap peramah dan mengutamakan keperluannya. Ini dengan sendirinya akan menerbitkan perasaan hormat orang itu terhadap kita dan seterusnya menimbulkan rasa kasih dan sayang antara satu sama lain.

Bagaimana Ilmu Agama Ditarik

Hadith :
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Allah tidak akan mengambil kembali ilmu (agama) dengan mengambilnya dari (dalam hati) manusia, tetapi mengambilnya kembali dengan kematian para ulama hingga tidak bersisa, lalu orang ramai akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya yang apabila orang-orang itu bertanya kepada mereka, mereka akan memberikan jawapan-jawapan yang tidak didasarkan kepada ilmu. Maka mereka akan berada dalam kesesatan dan menyesatkan orang lain.”

(al-Bukhari)


Huraian

Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu. Istilah ulama pula digunakan pada orang yang sangat memahami permasalahan agama dan mendalami ilmu agama. Di zaman ini, hampir tiada lagi ulama’ yang mempunyai penguasaan ilmu yang pelbagai melainkan hanya yang pernah belajar beberapa bidang ilmu tetapi hanya menguasai satu atau dua cabang ilmu sahaja. Berbeza dengan zaman lampau, orang yang disebut sebagai ulama’ adalah mereka yang menguasai dengan “ahli” banyak cabang-cabang ilmu. Dengan perkataan lain golongan ulama’ semakin lama semakin pupus. Justeru dengan waktu yang semakin singkat di akhir zaman ini ditambah dengan kesibukan dan kelalaian kita sendiri dalam mengurus waktu marilah kita sama-sama mengkaji dan mengambil ilmu daripada mereka kerana kehidupan ini tidak akan berjalan dengan tertib tanpa bimbingan dari para ulama’. Tetapi kenyataannya, ramai orang pada hari ini yang tidak memahami situasi tersebut sehingga mereka merasa mampu mengatur kehidupan dunia tanpa merasa perlu melibatkan golongan ulama. Bahkan ulama dianggap sebagai kelompok mereka yang tidak mengetahui situasi dan kondisi, tidak memahami perkembangan zaman dan hanya berbicara dalam masalah ibadah dan akhirat semata. Akibatnya timbul sikap menolak meremehkan golongan ulama dan keterlibatan mereka dalam urusan pengaturan dunia. Justeru tidak hairan ada golongan manusia yang menjadikan orang-orang yang jahil dan bodoh sebagai pemimpin mereka hingga akhirnya membawa kepada kesesatan dan kemusnahan

"Untuk Renungan Bersama. Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut.

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah.

"Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.” Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

"Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggil Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan risau, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. Ya Allah, dahsyat sungguh maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Sahabat-sahabat muslim sekalian, marilah kita renungkan kembali pengorbanan Rasulullah kepada umatnya lainnya, betapanya cintanya Rasulullah kepada umatnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

"